UMKM Indonesia Melesat, Menjadi Kekuatan
Pendorong Pemulihan Ekonomi Nasional

16/05/2024 | By Amanah Ventura Syariah

Pertumbuhan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia telah menjadi fokus utama dalam upaya menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional yang terus berlangsung setelah pandemi Covid-19. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia telah menekankan pentingnya peran UMKM dalam perekonomian Indonesia, dengan kontribusi sektor ini jumlahnya mencapai 99% dari keseluruhan unit usaha. Dapat dilihat pada gambar di bawah ini pertumbuhan UMKM dari 5 tahun terakhir sebagai berikut:

Pada tahun 2023, pelaku usaha UMKM mencapai 66 Juta dan menyumbang 61% terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia, setara Rp 9.580 triliun. UMKM memiliki peran yang sangat krusial dalam perekonomian Indonesia, terutama dalam menghadapi krisis ekonomi dan pandemi Covid-19. Sejarah telah membuktikan bahwa UMKM mampu bertahan dan menjadi penyelamat perekonomian di tengah krisis besar, seperti pada tahun 1997-1998 dan sekarang ketika perekonomian global dan nasional lesu akibat pandemi Covid-19. Sekitar 117 Juta orang atau 97% tenaga kerja di Indonesia bekerja di sektor UMKM. Hal ini mencerminkan peran penting UMKM dalam pencapaian tujuan pembangunan Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia. Dengan demikian, UMKM menjadi bagian integral dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mencapai tujuan pembangunan yang lebih baik.

Kategori UMKM Berdasarkan Modal Usaha
Dunia usaha Indonesia tak lepas dari peran krusial UMKM. Beragam jenis usaha ini, diklasifikasikan berdasarkan modal usaha yang dimiliki, menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Dalam artikel ini, kita akan menyelami lebih dalam tentang kategori UMKM berdasarkan modal usaha, memahami karakteristik, dan kontribusi mereka dalam mewarnai peta ekonomi Indonesia.
• Usaha Mikro: Modal usaha maksimal Rp 1 miliar (tidak termasuk tanah dan bangunan)
• Usaha Kecil: Modal usaha lebih dari Rp 1 miliar sampai Rp 5 miliar
• Usaha Menengah: Modal usaha lebih dari Rp 5 miliar sampai Rp 10 miliar
• Usaha Besar: Modal usaha lebih dari Rp 10 miliar
Akses Pembiayaan Masih Menjadi Kendala
Data Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menunjukkan bahwa 46,6 juta dari 64 juta UMKM di Indonesia (2020) belum memiliki akses permodalan dari bank dan lembaga keuangan. Pemerintah memberikan dukungan pembiayaan melalui program seperti PKBL, Mekaar PNM, Bank Wakaf Mikro, UMi, dan KUR. Skema pembiayaan ini disesuaikan dengan kelas UMKM dan perkembangan bisnisnya. Kredit UMKM terus meningkat mencapai Rp 1.275,03 triliun (tumbuh 16,75% yoy) dan NPL terjaga stabil di kisaran 4% di tahun 2022.
Kontribusi ekspor UMKM
Jumlah kontribusi ekspor UMKM naik dari 14,37% pada 2020 menjadi 15,69% pada 2021. Salah satu upaya untuk meningkatkan daya saing UKM yakni dengan memanfaatkan peluang integrasinya ke dalam pasar global melalui Global Value Chain (GVC) maupun Global E-Commerce (GEC). Integrasi UKM ke dalam GVC dapat dilakukan dalam bentuk ekspor tidak langsung melalui agregator domestik maupun perusahaan afiliasi asing.
Tantangan UMKM
Dengan demikian, tantangan UMKM ke depan yang harus diatasi bersama oleh segenap stakeholders terkait antara lain berkaitan dengan inovasi dan teknologi, literasi digital, produktivitas, legalitas atau perizinan, pembiayaan, branding dan pemasaran, sumber daya manusia, standardisasi dan sertifikasi, pemerataan pembinaan, pelatihan, dan fasilitasi, serta basis data tunggal. Saat ini, Pemerintah Indonesia tengah mendorong peningkatan kinerja UMKM nasional melalui strategi penerapan digitalisasi untuk meningkatkan daya saing, menjadi pemain global dan berorientasi ekspor.
Peran UMKM di Indonesia sangat penting dalam perekonomian nasional, dan pertumbuhannya terus meningkat. Dengan dukungan pemerintah dan inisiatif-inisiatif dari sektor swasta, UMKM diharapkan dapat terus meningkatkan kontribusinya terhadap PDB dan mencapai target lapangan kerja baru yang ditetapkan.
Sumber: diolah dari berbagai sumber
Share the Post: